• Kátia Boroni

Program Pengendalian Hama Tikus (Barn owl project)



Program Pengendalian Hama Tikus. Dengan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica)

OLEH RAPTOR CLUB INDONESIA. The use of barn owls (Tyto alba javanica) in the fauna control in Indonesian rice paddies. Exclusive interview with Bobby Suhartanto, conservation director of Indonesian falconry club RCI (Raptor Club Indonesia), and RCI article about the project.

By Kátia Boroni 2017, for the sites Diário de Falcoaria e Corujando por aí.

PDF Download here


The site DIário de Falcoaria (Falconry journal) and Corujando por aí (Owldering around) support those dedicated to the preservation of birds of prey all over the world. We know that there are many falconers who are developing breeding projects for the reintroduction of endangered birds, rehabilitating birds arriving at environmental agencies, and doing environmental education. I was very pleased to be invited to join a group of Indonesian falconers on Facebook, called "Burung Hantu Sahabat Petani" which literally means "owls are farmer´s friends". This group was created by the Indonesia falconry club RCI (Raptor Club Indonesia), which develops a project called Barn owl, where they use them as natural rodent control in rice paddies in Cancangan, Indonesia. I got in touch with Bobby Suhartanto, the conservation director of the club, and he sent me an article and gave me an interview about the project.

It is very sad to realize that the situation of barn owls is the same in different countries, always associated with legends of bad omen, thousands are killed by fear or prejudice. But the RCI club effort was able to overcome pessimism about the project and today barn owls are not only seen as farmer´s friends, but are also protected by them. This change of attitude has been through education, showing the population the important role that owls have in controlling rodents, and how living with them can be beneficial to all.

I believe that we only love what we know, and we only protect what we love, and the main objective of the Diário de Falcoaria and its environmental education project Corujando poa aí is to promote falconry and its important role, not only in the survival of this art of more than four thousand years, but in showing how it allows us to help rebalance nature, to preserve the birds of prey and their game, and to reduce the enormous damage caused to nature by ourselves.

Congratulations to all involved in the project Barn owl and in the RCI club, you can always count on me!

Hugs,

Kátia Boroni.

Program Pengendalian Hama Tikus. Dengan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica)

OLEH RAPTOR CLUB INDONESIA

Indonesia adalah negara sudah terkenal dengan hasil pertaniannya sejak jaman dahulu kala. Lokasi geografis Indonesia di garis Kpistiwa dan dengan iklim tropisnya membuat Indonesia memiiki tanah yang kaya dan subur, sehingga pertanian di Indonesia hasilnya sangatlah bagus. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa Indonesia sangat mengandalkan pendapatan negaran dari hasil pertaniannya.

Di Indonesia, padi merupakan hasil pertanian yang menjadi komoditas utama. Padi juga merupakan salah satu dari sekian hasil pertanian yang diproduksi dalam jumlah yang besar. Hal ini dikarenakan padi (beras) merupakan salah satu makanan pokok orang Indonesia.

Tanaman padi adalah jenis tanaman air yang membutuhkan banyak air untuk mendukung pertumbuhannya. Tempat di mana padi ditanam disebut sebagai sawah atau persawahan, yang mana secara kebetulan adalah habitat yang sangat cocok untuk beberapa satwa liar, termasuk binatang pengerat (tikus). Salah satu jenis binatang pengerat (tikus) yang seringkali dijumpai di area persawahan adalah Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus sawah adalah tipe hewan yang aktif di malam hari (nokturnal) dan mereka suka tinggal dengan menggali lubang di area persawahan. Mereka berkembang-biak secara cepat dan cenderung merusak, serta memakan tanaman padi yang masih muda dan juga bulir padi yang nantinya dipanen oleh petani. Oeh sebab itu, kehadiran Tikus Sawah telah menjadi masalah yang serius bagi para petani di Indonesia. Serangan hama tikus yang terjadi di sawah biasanya tidak hanya sekali atau dua kali, namun berulang-kali sehingga tidak jarang para petani pun mengalami gagal panen. Bisa dikatakan bahwa hama tikus adalah masalah utama yang dihadapi oleh para petani di Indonesia.

Selama ini, para petani di Indonesia telah menggunakan berbagai cara untuk tikus agar jumlah serangan Tikus Sawah di tanaman padi mereka berkurang. Tikus Sawah diketehui sering melakukan ‘migrasi’ atau perpindahan dari area persawahan ke area persawahan yang lainnya di dalam mencari makanan. Hal ini akan semakin terjadi, terutama ketika makanan sedang langka. Seiring dengan pertambahan jumlah koloni, serangan mereka terhadap tanaman padi juga akan meningkat dan hal ini yang ingin sekali dihindari oleh para petani di Indonesia. Berbagai cara, seperti penggunaan racun tikus dan pengasapan (fogging) telah terbukti tidak cukup efektif di dalam menanggulangi serangan hama tikus. Jebakan tikus pun terkadang juga digunakan, ditambah dengan cara tradisional gropyokan (Bahasa Jawa), di mana para petani bekerja sama dengan memburu dan membunuh tikus yang mereka jumpai di area persawahan pada siang hari. Bagaimanapun juga, kedua teknik tersebut telah terbukti tidak cukup efektif untuk mengurangi jumlah populasi tikus di sawah mereka. Tikus Sawah merupakan hewan yang sangat lincah, sehingga diperlukan cara yang lebih efektif agar serangan mereka di area persawahan bisa lebih terkontrol.

Raptor Club Indonesia, yang berpusat di Yogyakarta, merupakan organisasi yang tertarik dengan ide penggunaan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica) sebagai pembasmi hama tikus alamiah. Sejak tahun 2009, pengamatan terhadap populasi Burung Hantu Serak Jawa di Yogyakarta telah dilakukan oleh RCI bersama dengan Organisasi Kutilang Indonesia – sebuah organisasi pengamat burung yang berada di Yogyakarta. Burung Hantu Serak Jawa telah terbukti mampu berburu tikus secara efektif. Hal ini karena tikus merupakan mangsa utama mereka di alam. Bahkan, ketika musim berbiak mereka tiba, intensitas berburu Burung Hantu Serak Jawa akan meninggkat karena mereka harus memberi makan anak-anak mereka. Burung Hantu Serak Jawa juga sangat adaptif untuk tinggal dan berkembang-biak di daerah hunian manusia. Fakta tersebut telah menjadikan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami di area persawahan.

Pada tahun 2013, kelompok petani Margo Mulyo dari Dusun Cancangan Yogyakarta, melalui ketuanya - Bapak Bavit Margo Utomo menghubungi Raptor Club Indonesia karena para petani di Cancangan menghadapi serangan tikus yang berat di area persawahan mereka. Mereka telah mendengar soal RCI dengan program basmi hama tikus alamiahnya dan RCI melihat bahwa ini merupakan peluang yang bagus untuk membuktikan bahwa RCI selama ini benar mengenai Burung Hantu Serak Jawa. Tanpa menunggu lama, RCI pun setuju untuk membantu para petani dari Dusun Cancangan dengan masalah hama tikus mereka.

Program RCI yang kemudian disebut sebagai program “Burung Hantu Sahabat Petani” tersebut diawali hanya dengan sepasang Burung Hantu Serak Jawa dan sebuah rumah burung hantu (Rubuha). RCI yakin bahwa usaha yang dilakukan demi membantu para petani di Dusun Cancangan akan membuahkan hasil, meskipun kegagalan pun terjadi ketika tahap awal pengenalan burung hantu di area persawahan dilakukan.

Setelah diadaptasikan dengan lingkungan area persawahan selama kurang lebih satu minggu, sepasang burung hantu muda pun akhirnya dicoba untuk dilepas-liarkan. Hanya sayang sekali bahwa burung hantu pejantan ditemukan mati tidak jauh dari Rubuha. Pengamatan terus dilakukan guna mengetahui perkembangan burung hantu betina yang sekarang sendirian. Rasa kekecewaan pun kemudian berubah menjadi kegembiraan ketika burung hantu betina pun terlihat telah tinggal di dalam Rubuha dan mendapatkan pasangan, yakni burung hantu pejantan yang ternyata telah tinggal di sekitar Dusun Cancangan. Tak lama setelah mereka berpasangan, burung hantu betina pun bertelur dan mereka berhasil menghasilkan 4 ekor anakan.

Untuk RCI dan para petani di Dusun Cancangan, keberhasilan tersebut merupakan masa-masa yang telah mereka nantikan, sekaligus sebagai penanda bahwa mereka harus segera membuat Rubuha baru dan mendirikannya di area persawahan lagi. Rubuha baru tersebut adalah untuk mendukung anakan burung hantu yang telah menetas dan akan segera hidup mandiri, berburu tikus untuk mencukupi kebutuhan pakan mereka sendiri. Pengamatan pun membuktikan bahwa anakan burung hantu yang telah mandiri segera menempati Rubuha yang baru saja didirikan.

Selain Rubuha, tangkringan burung berbentuk menyerupai huruf “T” pun disediakan oleh RCI dan para petani Dusun Cancangan untuk membantu Burung Hantu Serak Jawa di dalam mereka berburu tikus di area persawahan. Tangkringan T tersebut telah terbukti sangat berguna sebagai tempat burung hantu menggunggu mangsa dan tingkat keberhasilan mereka di dalam berburu Tikus Sawah pun semakin meningkat setelah tangkringan T banyak dipasang di area persawahan.

Semenjak jumlah Rubuha ditingkatkan, populasi Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan pun meningkat secara signifikan. Hal ini juga memberikan hasil yang memuaskan kepada RCI dan terutama kepada para petani di Dusun Cancangan, yakni bahwa jumlah populasi hama tikus pun telah mengalami penurunan yang signifikan. Ini merupakan sebuah berita gembira yang kemudian didengar oleh kelompok petani lain yang ingin mengenal dan belajar mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami di persawahan.

Raptor Club Indonesia dan para petani di Dusun Cancangan selalu terbuka dan menyambut siapapun yang ingin belajar mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami. Banyak pula mahasiswa biologi dari berbagai universitas di Yogyakarta yang tertarik untuk melakukan penelitian terhadap Burung Hantu Serak Jawa. Beberapa mahasiswa pun telah melakukan pengamatan tentang kehidupan alami Burung Hantu Serak Jawa; tentang perkembang-biakan dan perilaku berburu mereka di alam. Mereka juga telah melakukan pengamatan terhadap anakan burung hantu yang ada di setiap Rubuha guna mendapatkan data tentang populasi Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan. Pelet atau muntahan burung hantu yang berupa sisa bulu dan tulang dari mangsa yang tidak tercerna pun diambil dari Rubuha maupun di sekitar Rubuha guna mengetahui mangsa apa saja yang di makan oleh burung hantu. Hasilnya pun menunjukkan bahwa sebagian besar mangsa yang di makan oleh Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan adalah Tikus Sawah. Hal tersebut akhirnya membuat banyak orang percaya bahwa Burung Hantu Serak Jawa adalah pembasmi tikus yang efektif dan alamiah (aman bagi lingkungan).

Tidak seperti racun tikus yang berbahaya, karena pada kenyataannya tidak hanya Tikus Sawah yang akan mati, namun juga hewan liar lain seperti musang, garangan, dan juga tupai. Hewan domestik seperti ayam, bebek, anjing, dan kucing pun terkadang ikut memakan racun tikus dan mati. Jika jebakan tikus yang dipergunakan, terkadang hewan lain selain tikus pun ikut terjebak dan mati. Sehingga penggunaan jebakan tikus juga tidak selamanya ramah lingkungan.

Pada tahun 2014, RCI mendapatkan sebuah undangan ke Bali untuk membantu sekelompok petani di sana membuat dan mendirikan Rubuha, serta melakukan pengenalan beberapa ekor Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus. Sedangkan pada tahun 2016, RCI juga diundang oleh Pertamina untuk melakukan presentasi mengenai program Burung Hantu Sahabat Petani. Pihak Pertamina telah mendengar mengenai program RCI tersebut dan berminat untuk mendukung RCI. Akhirnya, dari presentasi tersebut, RCI pun dapat meyakinkan pihak Pertamina untuk mendukung program Burung Hantu Sahabat Petani. Dukungan dari Pertamina sangat berarti dan berguna bagi RCI dan juga para petani di Dusun Cancangan. RCI kini semakin mampu untuk melanjutkan program Burung Hantu Sahabat Petani secara lebih intensif.

Rubuha dan tangkringan T pun semakin banyak dibuat dan didirikan di area persawahan Dusun Cancangan. Rubuha yang pertama yang telah roboh karena usia dan cuaca pun kini telah digantikan dengan Rubuha yang menggunakan bahan yang lebih kuat dan tahan lama. Beberapa ‘camera trap’ pun sekarang telah dipasang di beberapa Rubuha, guna memantau aktivitas burung hantu di malam hari. Beberapa kandang habituasi pun telah berhasil didirikan di area persawahan untuk mengkondisikan burung hantu baru agar terbiasa dengan area persawahan sebelum akhirnya mereka dilepas-liarkan di area persawahan tersebut. RCI pun telah menerima beberapa ekor burung hantu yang terluka dari orang-orang di sekitar Dusun Cancangan yang peduli. Burung-burung tersebut mengalami luka dan RCI pun berusaha untuk mengobati serta akhirnya melepas-liarkan mereka kembali di area persawahan Dusun Cancangan segera setelah mereka sembuh.

RCI kini telah mengikuti beberapa even atau acara yang berkenaan dengan pertanian guna semakin mengenalkan dan melakukan edukasi terhadap masyarakat petani mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi tikus alami di area persawahan maupun perkebunan. Ternyata dukungan dan antusias para petani pun sangat luar biasa, banyak dari mereka yang ingin belajar mengenai program RCI tersebut. Pemerintah daerah pun mendukung program RCI dan ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi RCI.

RCI hingga kini pun telah melakukan pengamatan terhadap beberapa satwa liar yang ada di sekitar Dusun Cancangan, yang mana kehidupan mereka didukung oleh ekosistem Dusun Cancangan. Ada beberapa spesies burung yang telah berhasil diamati, seperti burung derkuku, kutilang, terucuk, raja udang, bangau, dan juga ruak-ruak. Juga terdapat beberapa jenis mamalia yang teramati, seperti musang, garangan, dan tupai. Hal ini membuat RCI ingin menjadikan Dusun Cancangan sebagai kawasan yang mendukung konservasi satwa liar. RCI dan juga warga Dusun Cancangan telah memutuskan untuk melindungi dan menjaga satwa liar. Papan larangan berburu pun telah dipasang di beberapa titik di area persawahan Dusun Cancangan guna mencegah orang melakukan perburuan satwa liar, terutama Burung Hantu Serak Jawa. Hukuman akan diberikan kepada mereka yang melanggar dan para petani akan melakukan patroli setiap malam agar tidak ada burung hantu maupun satwa liar yang diburu oleh orang yang tidak bertanggung-jawab.


RAPTOR CLUB INDONESIA

Jl. Kaliurang KM. 5 Gg. Pangkur No. 2

Yogyakarta, Indonesia Contact Person: Bobby Suhartanto

E-mail: bobby.suhartanto@windowslive.com

Mobile: +6285641981797

Interview Bobby Suhartanto - RCI

1. Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang diri Anda (di mana Anda tinggal, apakah pekerjaan Anda, dan apa partisipasi Anda di RCI). Bagaimana awal Anda bisa ikut di dalam kegiatan RCI?


Nama Saya Bobby Suhartanto dan Saya tinggal serta berasal dari Salatiga, Indonesia. Salatiga merupakan sebuah kota kecil di propinsi Jawa Tengah yang terletak di kaki Gunung Merbabu. Kota Salatiga terkenal dengan hawa dingin serta Universitas Kristen Satya Wacana, yang mana banyak mahasiswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh sebab itu, Salatiga juga terkenal dengan sebutan Indonesia mini.

Saat ini Saya mengelola sebuah toko jamu tradisional bersama dengan orangtua Saya. Usaha kami merupakan usaha keluarga dan sudah diawali sejak tahun 1950 an, yang hingga kini sudah turun-temurun hingga 3 generasi.

Sejak kecil, Saya selalu kagum dengan hewan dan burung pemangsa adalah minat terbesar dalam hidup Saya. Pada awal tahun 2000 an adalah awal Saya mengenal falconry dan sejak saat itu Saya selalu berkeinginan untuk menjadi seorang falconer. Ketika itu Saya sedang duduk di bangku kelas 1 SMA ketika falconry telah mengubah hidup Saya secara drastis. Saya sangat ingin belajar tentang falconry dan internet adalah sumber pengetahuan utama buat Saya, karena ketika itu tidak ada buku tentang falconry maupun falconer di Indonesia.

Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, forum diskusi dan percakapan secara online telah sangat membantu Saya, sehingga pada tahun 2007 Saya bisa bertemu dengan beberapa orang dari Yogyakarta, Jawa Tengah yang mempunyai minat yang sama dengan Saya, yakni tentang falconry dan terutama konservasi burung pemangsa. Ketika kita berbicara tentang falconry, kita harus selalu ingat bahwa falconry adalah tentang penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ini artinya adalah kita harus selalu melakukan konservasi terhadap burung pemangsa dan hewan mangsa mereka, serta selalu menjaga habitat mereka.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan dan rapat, berdiskusi tentang konservasi burung pemangsa di Indonesia, akhirnya kami memutuskan untuk membuat suatu organisasi non-profit dan non-pemerintah. Pada bulan Mei tahun 2009, organisasi kami akhirnya terwujud dan kami beri nama Raptor Club Indonesia. Organisasi kami telah sah secara hukum (dengan akte pendirian) untuk melakukan konservasi burung pemangsa dan habitat mereka di Indonesia.

Ada 7 orang yang menjadi penemu RCI, yakni:

L. Budiprakoso Prawiroatmodjo (Ketua), Lim Wen Sin (Wakil Ketua/ Project Manager Program Burung Hantu Sahabat Petani),

Josafat Agung Sulistiyo (Seksi Galang Dana)

Panji Aria Putra (Sekretaris),

Bobby Suhartanto (Seksi Konservasi),

Sobry Aljaidy (Seksi Hubungan Masyarakat), dan

Teddy Kurniawan (Seksi Penelitian dan Pengembangan).

Program Burung Hantu Sahabat Petani merupakan salah satu program utama kami saat ini.

2. Bagaimanakah pandangan orang Indonesia terhadap Burung Hantu Serak Jawa? Apakah ada tahayul mengenai mereka?

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keberagaman etnis dan budayanya. Di Pulau Jawa di mana Saya tinggal, Orang Jawa sangat mempercayai berbagai tahayul dan binatang adalah obyek tahayul mereka.

Banyak orang percaya bahwa burung hantu adalah burung yang berhubungan dengan kematian (pembawa kematian) dan sebagai makhluk yang misterius di malam hari karena bentuk fisik dan suara mereka yang menakutkan. Mereka suka berkata bahwa ketika seekor burung hantu mengeluarkan suaranya yang seram, itu adalah suatu pertanda bahwa akan ada orang yang meninggal. Dari namanya, "burung hantu" pun sudah memberikan kesan menyeramkan. Saya tidak tahu bagaimana burung hantu mendapatkan namanya, tapi Saya percaya bahwa penamaan tersebut adalah karena bentuk fisik (mata yang bulat berwarna kuning) dan juga suara mereka yang menyeramkan.

Cerita tahayul tentang burung hantu tersebut telah diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga banyak orang pun sangat percaya dengan cerita tersebut. Bahkan, beberapa orangtua suka menceritakan cerita seram tentang burung hantu tersebut kepada anak-anak mereka agar mereka takut untuk bermain di luar rumah pada malam hari. Menurut Saya, hal ini harus dihentikan agar burung hantu tidak lagi ditakuti oleh banyak orang.

3. Bagaimana awal dari munculnya ide untuk menggunakan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami? Kenapa tidak memakai burung hantu jenis lain?

RCI selalu mencoba untuk mempelajari segala hal tentang burung pemangsa, baik yang aktif di siang hari maupun di malam hari. Bapak Lim Wen Sin adalah seorang ahli biologi dan beliau telah banyak melakukan penelitian dan observasi terhadap burung pemangsa. Di Indonesia ada banyak terdapat spesies burung hantu, mulai dari yang berukuran kecil seperti Celepuk Reban (Otus lempiji), berukuran sedang seperti Bloketupu (Bubo ketupu), dan yang berukuran besar seperti Beluk Jampuk (Bubo sumatranus).

Namun, dari berbagai jenis burung hantu tersebut, hanya Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica) yang telah diketahui suka memangsa tikus dan menjadikannya sebagai mangsa utama mereka. Mereka juga tersebar di seluruh Indonesia dan mampu beradaptasi untuk tinggal di daerah hunian manusia, serta bersarang di bangunan buatan manusia (termasuk kotak sarang buatan). Oleh sebab itu, Burung Hantu Serak Jawa juga disebut sebagai Burung Hantu Gudang. Hal tersebut merupakan salah satu dari pertimbangan utama kenapa Burung Hantu Serak Jawa adalah spesies burung hantu yang paling tepat untuk digunakan sebagai pembasmi hama tikus alami di area persawahan, di mana tikus telah menjadi masalah utama bagi para petani di Indonesia.

4. Bagaimana reaksi awal para warga Dusun Cancangan terhadap Burung Hantu Serak Jawa dan bagaimana reaksi mereka sekarang? Apakah mereka telah lebih memahami Burung Hantu Serak Jawa?

Bapak Bavit Margo Utomo adalah orang yang pertama kali menghubungi RCI dan menanyakan mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami di area persawahan dusun tersebut. Beliau adalah ketua kelompok petani Margo Mulyo dari Dusun Cancangan. Ketika itu, karena kepercayaan masyarakat terhadap tahayul sangat kuat, mereka cenderung menolak dan ragu-ragu ketika kami memulai program kami.

Namun, Saya percaya bahwa edukasi adalah hal yang terpenting di dalam kami mengenalkan Burung Hantu Serak Jawa sebagai predator hama tikus alami di Dusun Cancangan.

Pada tahun 2013 hingga tahun 2017, kami telah membuat dan mendirikan lebih dari 10 rumah burung hantu (Rubuha) di area persawahan dusun tersebut. Serta banyak juga kami memasang tangkringan berbentuk menyerupai huruf T yang berguna untuk membantu burung hantu di dalam memburu mangsanya. Kami menyadari pentingnya tangkringan T untuk meningkatkan keberhasilan burung hantu di dalam berburu tikus di sawah. Beberapa Rubuha yang sudah rusak pun telah kami ganti dengan yang baru. Sekarang, hasil panen para petani di Dusun Cancangan telah meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan meningkatnya populasi burung hantu, kini populasi tikus di sawah pun sudah lebih terkendali. Hal ini yang sangat berdampak pada perubahan pandangan para petani di Dusun Cancangan terhadap burung hantu. Sekarang mereka telah menyadari betapa hebatnya burung hantu di dalam berburu tikus dan membantu mereka menjaga tanaman padi mereka. Sekarang pola pikir mereka pun telah berubah, bahwa burung hantu bukanlah makhluk yang menakutkan lagi bagi mereka, namun sahabat mereka. Oleh sebab itu program dan grup Facebook kami beri nama 'Burung Hantu Sahabat Petani'. Hal ini merupakan nilai utama dari program kami selain tentang pengendalian populasi hama tikus.

Warga Dusun Cancangan kini telah sadar bahwa mereka harus melindungi tidak hanya burung hantu, namun juga satwa liar lain yang hidup di sekitar mereka dari ancaman para pemburu. Mereka telah mengerti pentingnya keseimbangan alam. Oleh sebab itu banyak tanda larangan anti-berburu dipasang di sekitar Dusun Cancangan. Pada malam hari, para warga Dusun Cancangan juga melakukan patroli untuk menjaga kawasan mereka bebas dari para pemburu satwa.

5. Apakah kesulitan terbesar ketika memulai program Burung Hantu Sahabat Petani di Dusun Cancangan?

Bisa dikatakan bahwa kesulitan terbesar dari program Burung Hantu Sahabat Petani adalah mengenai dana untuk memulai semuanya. RCI adalah organisasi non-profit dan kami selalu menggunakan sumber dana pribadi kami untuk melakukan program-program kami. Kami pun tidak pernah memperdulikan berapa banyak dana yang harus kami keluarkan untuk melakukan program ini, karena kami yakin bahwa usaha kami untuk membantu para petani di Dusun Cancangan tidak akan sia-sia.

Pada tahun pertama dan kedua program kami, masyarakat Dusun Cancangan telah sangat mendukung dan membantu, sehingga kami pun mampu membuat Rubuha dengan dana pribadi kami serta bantuan para warga. Untuk menyesuaikan dana yang ada, bahan Rubuha yang kami gunakan hanyalah yang sederhana saja dan tidak mampu bertahan lama (sebelumnya kami hanya menggunakan bambu sebagai tiang penyangga, namun sekarang kami telah menggunakan pipa besi sebagai tiang penyangga dan rangka Rubuha).

Awal mula usaha kami untuk mengenalkan Burung Hantu Serak Jawa di area persawahan Dusun Cancangan juga mengalami berbagai kendala. Burung hantu jantan dari sepasang burung hantu muda yang kami coba adaptasi kan di area persawahan pun ditemukan mati tidak lama setelah kami lepas-liarkan. Untungnya, burung hantu betina dapat beradaptasi dan tetap tinggal di dalam Rubuha yang kami sediakan. Setelah beberapa saat, burung betina tersebut pun akhirnya berpasangan dengan burung hantu jantan yang berasal dari sekitar Dusun Cancangan. Dari pasangan ini akhirnya jumlah populasi Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan semakin berkembang hingga kini.

Kami sangat bersyukur dan berterima-kasih kepada Tuhan YME karena semakin banyak orang yang mendukung dan peduli dengan program kami. Pada Mei 2016, Pertamina - perusahaan minyak negara, telah mengundang kami untuk melakukan presentasi mengenai program kami. Pertamina ingin lebih mengenal dan mengerti tentang program Burung Hantu Sahabat Petani kami karena mereka ingin membantu dan mendukung kami melalui program CSR mereka. Pertamina merasa bahwa program kami sangat memenuhi syarat untuk program CSR mereka dan sungguh merupakan suatu kesempatan yang bagus bagi kami RCI untuk dapat melakukan presentasi di depan Pertamina. Setelah presentasi selesai, mereka pun akhirnya memutuskan untuk membantu mendanai program kami. Dengan bekerja sama dengan Pertamina, kami pun bisa melakukan perbaikan terhadap kualitas Rubuha yang kami buat dengan mempergunakan bahan baku yang lebih kuat dan tahan lama. Kami juga bisa membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung program edukasi kami.

Sekarang ini, kami sedang menambah jumlah Rubuha dan juga membangun ruang pertemuan guna menyambut para tamu yang berkunjung ke Dusun Cancangan untuk belajar maupun meninjau proyek kami. Kami selalu terbuka terhadap siapa saja yang tertarik ingin belajar dan mendukung program kami, mulai dari pegawai pemerintahan, kelompok petani lain, sahabat, serta yang utama para pelajar atau mahasiswa yang datang ke Dusun Cancangan tidak hanya untuk mempelajari tentang Burung Hantu Serak Jawa, namun juga membantu kami dengan program kami.

Beberapa fotografer satwa liar pun sering berkunjung ke Dusun Cancangan untuk nengambil gambar tentang proyek kami. Serta beberapa sahabat yang datang dari Belanda dan Singapura yang sangat mendukung program kami.

6. Hingga saat ini, daerah mana saja yang telah mempergunakan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami di area persawahan?

Burung Hantu Serak Jawa telah digunakan sebagai pembasmi hama tikus alami di beberapa kota di Pulau Jawa, seperti:

Jawa Tengah: Batang, Demak, Klaten, dan Yogyakarta

Jawa Timur: Mojokerto dan Malang

Pada tahun 2015, RCI pernah diundang ke Bali untuk membantu satu kelompok petani di sana untuk mengenalkan penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami di sana. Selama ini yang Saya tahu, telah ada banyak petani di Indonesia yang tertarik dengan penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alami dan RCI selalu menyambut mereka untuk belajar mengenai program kami melalui grup Facebook kami (Burung Hantu Sahabat Petani).

7. Apakah harapan Anda di masa depan?

Boleh dikatakan bahwa RCI bukanlah yang pertama kali menggunakan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alamiah di Indonesia. Sebelum kami, telah ada beberapa kelompok petani yang menggunakan teknik yang sama. Namun, RCI mencoba untuk meningkatkan mutu dan standar serta lebih mengenalkan secara luas mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai predator tikus alami di Indonesia. Dengan pengalaman dan kemampuan yang kami miliki, kami berharap untuk dapat membuat Rubuha secara lebih bagus lagi, baik dari segi bentuk maupun bahan. Dengan itu kami akan dapat menyediakan Rubuha yang sangat seusai dengan kehidupan biologis burung hantu.

Kami juga berencana untuk melakukan penelitian dan pembelajaran tidak hanya untuk lebih mengenal dan mengerti burung hantu, namun juga tikus yang menjadi hama di area persawahan. Kami akan bekerja sama dengan universitas di sekitar kami, terutama dengan mahasiswa fakultas biologi, untuk melakukan observasi dan mempelajari kehidupan dan hubungan antara burung hantu dan tikus di alam. Ke depannya kami juga akan mempelajari pelet hasil muntahan burung hantu yang berisi sisa-sisa bagian tubuh mangsa mereka seperti tulang dan bulu yang tidak tercerna, dengan harapan kami dapat mendapatkan data mengenai mangsa apa saja yang mereka mangsa di alam.

Saat ini kami telah menggunakan camera trap, namun ke depannya kami juga akan memasang CCTV pada beberapa titik di area persawahan guna memantau aktivitas burung hantu di malam hari ketika mereka sangat aktif.

Kami akan terus mengedukasi masyarakat Indonesia agar mereka memiliki pemahaman yang lebih baik lagi terhadap satwa liar di sekitar mereka, terutama terhadap Burung Hantu Serak Jawa. Perhatian serta fokus yang lebih besar harus diberikan terhadap para masyarakat, agar mereka mengerti dan memahami peran penting dari Burung Hantu Serak Jawa di dalam mengontrol populasi tikus. Mereka tidak seharusnya takut dan membenci, namun sudah seharusnya mereka melindungi burung hantu sahabat mereka.

Raptor Club Indonesia melalui program Burung Hantu Sahabat Petani, berharap untuk menjadi sumber informasi dan pengetahuan utama mengenai penggunaan Burung Hantu Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus alamiah di Indonesia. Kami akan selalu menyambut siapa saja yang ingin mengenal dan belajar tentang program kami dan kami sangat berharap bahwa program kami akan dipergunakan secara lebih luas lagi di wilayah Indonesia. Karena sudah terbukti bahwa penggunaan burung hantu sebagai predator alami tikus di area persawahan adalah lebih murah secara ekonomi, serta ramah lingkungan daripada menggunakan racun, yang mana tidak hanya akan membunuh tikus namun juga satwa liar lain. ami sangat berharap pemerintah Indonesia akan selalu mendukung kami untuk mencapai target kami di masa depan.

#Corujasowls #FalcoariaFalconrycetreria #educaçãoambiental #interviewentrevista #controledefauna #Corujandoporaí #tytofurcata

14 visualizações

Webmaster: Kátia Boroni I  MTB: 002.0435/MG

Copyright © 2015-2020 - Diário de Falcoaria - All rights reserved